Enjoy your life !!!





Minggu, 15 November 2015

KURINDU DIRIKU MASA ITU

Pernah tidak merasakan rindu akan hal lalu yang begitu indah? Merindukan masa dimana seseorang sebebas-bebasnya melakukan hal apapun tanpa disertai rasa cemas atau mudah bersalah. Masa ketika sikap polos masih dimiliki tanpa panjang pikir tingkah yang dilakukan itu benar atau salah. Ya masa itu adalah masa ketika masih memasuki  sekolah dasar atau lebih kita kenal sebagai masa anak-anak. Masa dimana hati bersuka ria melakukan segala hal apapun bersama kawan tanpa pandang bulu,tanpa disertai rasa pilih kasih dalam berteman, tanpa ada embel-embel apapun dalam berinteraksi dengan semua orang. Semua mengalir apa adanya tanpa maksud tertentu dengan suatu alasan. Alasan inilah yang mendasari saya untuk menuliskan kerinduan saya pada kenangan indah masa sd ini.

Kehidupan saya yang sekarang memang banyak yang berbeda bahkan saya kadang merasa bosan sehingga terkadang saya merindukan masa kecil saya. Masa dimana saya bertindak semaunya dan tertawa lepas. Lain halnya dengan kehidupan masa sekarang,kehidupan saya yang telah terkontaminasi dengan polusi di dunia fana yang saya tinggali hampir seperempat abad. Sudah bertahun-tahun polusi yang saya hirup dan mengendap keras setelah kehidupan polos saya di masa sd tercemari.  Polusi dari berbagai lingkungan inilah yang mengharuskan saya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Tanpa filter yang kuat. Mungkin saya akan lebih terpapar radiasi penyimpangan moral yang lebih jauh atau bahkan masuk ke palung kenistaan yang lebih dalam. Ah kali ini saya benar-benar rindu akan masa kecil saya. Sudah mulai banyak beban yang ada di pikiran saya,sudah mulai muncul lebih banyak kerutan di dahi,sudah lebih banyak tuntutan yang menggerogoti isi otak ini. Sudah banyak hal tertunda yang belum juga diselesaikan. Sudah menumpuk penat sepenat penatnya. Hal yang bisa dilakukan apa? Ya hanya bisa menjalani saja sebaik-baiknya dan berusaha menikmati setiap proses. Cara bersyukurnya ya dengan menitipkan rasa rindu pada sifat kekanakan yang lama hilang dengan mengenang lagi atau setidaknya memunculkan sifat kekanakan itu lagi pada masa kini.

Sepertinya memang perlu sifat kekanakan dipanggil lagi untuk sekedar mengendorkan urat saraf yang mulai kencang,tegang bahkan membentuk kesemrawutan jalan berpikir. Perlunya sifat kanak-kanak ini dimaksudkan supaya kita tidak melulu serius dalam menjalani hidup. Senangkan pikiranmu dengan sifak kekanakanmu. Anggap saja sebagai obat awet muda alami . Berikan waktu bagi si kekanakan dalam diri untuk muncul kembali setelah terpendam berpuluh tahun lamanya.Biarkan ia mengembara lagi untuk sekedar mengurai kemacetan jalan berpikir atau sarana untuk kita supaya lebih bersyukur dalam menikmati hidup. Tak usah malu, toh itu sifat bawaan yang masih dimiliki walaupun sudah lama terkubur.  Dari keadaan inilah saya ingin menyeritakan kenangan masa kecil saya yang memang saya rindukan kembali.

Masa Sekolah Dasar

Masa dimana saya bertindak sebebasnya tapi tetap dalam batasan. Batasan ini adalah peraturan dari orang tua saya yang sengaja mendidik dengan disiplin dan kemandirian. Ini dimaksudkan mungkin karena saya adalah anak pertama dan salah satu bentuk uji coba dimana sebagai anak pertama adalah sebagai dasar untuk mendidik anak-anak orang tua saya berikutnya. Pada masa sd ini saya merasa tidak ada kekangan dari hati dan perasaan sendiri. Tidak ada konflik yang membuat ribet suatu urusan. Semua hal yang saya lakukan berjalan begitu adanya mengalir tanpa sebab dan akibat. Pikiran terasa enteng tanpa ada konflik batin dalam mengambil suatu keputusan. Pada masa ini saya adalah sosok periang,berteman dengan siapa saja tanpa pandang umur. Semua orang entah yang lebih kecil, seumuran, atau bahkan jauh lebih tua saya akrabi. Terasa tidak ada dinding pembatas yang menjulang tinggi. Saya bebas bergaul dengan siapa saja. Malah pada saat itu saya bergaul dengan teman yang lebih tua entah itu teman klub bola di kampung saya yang rata rata anak smp ke atas bahkan ada juga yang sudah mahasiswa. Rasanya gembira sekali bergumul dengan mereka tanpa ada rasa malu atau minder sekalipun karena saat itu belum kenal dengan namanya malu atau minder. Semua dianggap sama sebagai teman sebaya.

Pada masa ini juga pergaulan saya sangat luas walau saya masih anak sd tapi segala kalangan saya akrabi. Saat itu mungkin urat malu atau urat minder saya belum tumbuh,haha. Saat sd pun saya juga tidak pilih-pilih teman baik itu laki atau perempuan. Saya masih menjadi pribadi yang pemberani,setia kawan,solidaritas dan kebersamaan dengan teman masih terjaga. Hal itu semua terjadi saat sifat polos ini belum mengalami globalisasi dan pengikisan karakter. Ketika masa polos ini setiap keputusan saya ambil secara cepat tanpa banyak pikir panjang,pikiran masih terasa jernih sehingga cepat dalam mengambil setiap keputusan. Dilihat dari interaksi pergaulan pun terbilang sangat luas,saat itu daya jelajah saya terbilang tinggi. Setiap bertemu orang baru terasa mudah sekali akrab dan memeroleh kawan baru terbilang mudah. Di manapun saya bermain setidaknya mudah menjalin komunikasi dengan orang lain dengan jurus sksd (sok kenal sok deket).

Rindu rasanya saya dengan sifat mudah akrab ini yang sekarang sudah sulit saya lakukan. Mungkin ilmunya sudah hilang tergerus waktu karena lama tidak saya asah. Selain dibilang masih supel dan memiliki pergaulan luas dulunya, makanya saya memiliki banyak kegiatan  yang dapat menyalurkan hobi terutama dalam hal olahraga. Melalui hobi ini ruang gerak saya tak terbatas. Hampir semua olahraga saya lalui kecuali renang..haha,,,entah kenapa saya kurang tertarik dengan olahraga air ini sehingga tak pernah saya selami sampai sekarang. Intinya sebenarnya dalam cerita ini saya ingin berbagi bahwa pada masa sekarang ini saya merindukan kepribadian saya yang dulunya supel, tak pandang teman, mudah bergaul, banyak kegiatan dalam pengembangan diri, easy going kalau kata orang sekarang,berpikir cepat dalam mengambil keputusan,mudah bersosialisasi dengan siapapun,menjadi pribadi yang sederhana dan gak ribet, tidak jaim,selalu mau menyoba hal baru tanpa penuh pertimbangan. Sekiranya masih banyak kepribadian pada masa anak-anak dalam diri saya yang ingin saya munculkan kembali, walau dalam hal ini memiliki konteks yang berbeda yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekarang.

Banyak hal yang telah hilang dari diri saya yang sekiranya saya  merasa nyaman dan benar-benar menjadi diri saya sendiri. Sifat pada masa itu saya rasakan menjadi saya yang sebenarnya. Tapi seiring berjalannya waktu kepribadian itu justru makin lama tergerus hilang malah menjadi sifat yang kadang berkebalikan dari sifat saya yang dulu. Saya mulai merasakan urat malu dan minder saya tumbuh dengan cepat ketika memasuki masa smp. Entah kenapa hal itu terjadi. Saya juga mulai membatasi diri dari pergaulan tidak seperti masa sd yang mau main kemanapun terserah. Mungkin faktor lingkungan yang membentuk seperti itu atau bahkan saya terintimidasi oleh sisi lain dari diri saya sendiri.

Memasuki sma saya juga mulai menjadi orang yang banyak pertimbangan dalam memilih teman, bergaul,bahkan dalam mengambil suatu keputusan. Pergaulan tetap berjalan seperti biasa namun sifatnya terbatas saja. Tidak banyak teman dekat. Pada saat ini pula semacam sifat introverts saya mulai tumbuh juga selain kumis dan jenggot yang mulai malu-malu untuk menampakkan diri. Jadi saya mulai membatasi diri dari dunia luar. Padahal sebenarnya yang saya rasakan berbeda. Hati berkata lain tapi tindakan saya menolak untuk keluar dari kotak pengekang ini. Timbul konflik akhirnya di dalam pikiran yang membuat hidup saya tidak seenjoy dulu ketika masa sd. Saya menjadi pribadi yang banyak perhitungan dan penuh pertimbangan memikirkan baik dan buruknya suatu tindakan.

Masa itu juga masih sama berlanjut sampai sekarang hanya saja saya sekarang lebih dapat mengontrol itu semua. Walau banyak pergolakan dalam hati dan jwa setidaknya melalui cara bersyukur atas segala tempaan yang mendewasakan saya sampai saat ini, saya menyoba kembali untuk terbuka dengan dunia luar,apa kata hati saya turuti walau terkadang gejolak jiwa masih menggelora. Kepribadian di masa sd itulah yang sekiranya menjadikan diri saya seutuhnya. Namun apa daya bertahun-tahun lamanya kepribadian itu telah terpapar radiasi dan polusi akhirnya  tercemar dan malah terkubur dalam hati dan jiwa yang kadang bergejolak ini.  Sebagai penutup tulisan ini saya ingin sedikit bersajak ria lewat curahan hati ini. Hehe, jangan kau kubur sifat kekanakanmu !!!

                Kurindu diriku
Hei diriku yang dulu kemarilah
Kembali lagi pada diriku walau tak bisa seutuhnya kau kembali
Rinduku padamu ingin kunikmati lagi
Ingin kucumbu dirimu dalam umurku yang hampir seperempat abad ini
Walau banyak sifat yang bertolak belakang
Setidaknya kita masih bisa menjalin persahabatan dan cinta
Untuk diriku sendiri dari masa dulu hingga sekarang
Ku tunggu kehadiranmu supaya aku awet muda lewat sifat kekanakan masa itu
Kurindu diriku yang dulu !!!!

Minggu, 08 November 2015

TIPE-TIPE SISWA DI KELAS


Belajar di kelas tidak lepas dengan interaksi antara guru dan siswa. Banyak kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar ini. Setiap hari saja pasti akan ada pengalaman unik dan berbeda yang akan dialami guru dan siswa. Layaknya siang dan malam,matahari dan bulan, pria dan wanita, nah sedangkan jika di kelas jug harus ada guru dan siswa yang mendukung satu sama lain. Bisa apa coba guru tanpa siswa atau siswa tanpa guru. Nah di tempat inilah “kelas” guru dan siswa selalu bercengkerama berbagi hal-hal yang sekiranya bermanfaat. Guru belajar dari siswa terkait bagaimana mengoptimalkan potensi dari masing-masing individu untuk melesatkan mereka sejauh yang mereka bisa. Siswa belajar dari guru terkait ilmu pengetahuan dan bagaimana berinteraksi dengan orang yang dijadikan teladannya. Harus ada titik keseimbangan antara guru dan siswa supaya terjadi hubungan harmonis antara guru dan siswa.

Tak kenal maka tak sayang, kalimat tersebut memang sangat bermakna dalam. Jika guru tak mengenali siswanya bisa dikatakan guru tersebut juga tak sayang sepenuhnya. Tak kenal disini yang dimaksud adalah tidak mengenali bagaimana karakter masing-masing siswa. Guru yang kurang berusaha mengenali siswanya akan susah untuk melakukan pendekatan terhadap siswa apabila suatu saat terjadi masalah. Memang ada masalah di kelas? jawabannya banyak. Saya sering bermasalah dengan siswa tapi bukannya cari masalah lho ya. Masalah ini sebenarnya timbul akibat kurang kenal dan sayangnya saya terhadap siswa saya sendiri.hehe... Maka dari itu saya ingin menyeritakan mengenai tipe-tipe siswa yang saya jumpai selama saya mengajar sampai saat ini. Kita tahu bahwa setiap individu dilahirkan dengan potensi berbeda dan memiliki keunikan tersendiri. Karakter berbeda inilah menjadi tantangan bagi guru untuk menyari win solution bagaimana menciptakan kelas yang hebat dengan memberdayakan banyak potensi dari masing-masing siswa.

Berdasarkan apa yang saya lihat,amati,jalani,rasakan ingin rasanya saya mengenal siswa saya lebih dalam sehingga tulisan ini lahir begitu adanya. Berikut ini beberapa tipe siswa di kelas yang pastinya sangat beragam dan unik untuk kita dalami.

1.      CEREWET
Siswa tipe ini adalah siswa yang memang terkenal di kelas banyak bicara. Banyak hal yang diluar kegiatan belajar dibicarakan. Pasti setiap kelas ada saja individu unik ini. Tipe ini suka menjadi dominan dibanding teman yang lain. Ada saja hal yang menjadi bahan pembicaraan selama di kelas. tipe ini juga sering mengadu atau mengeluh jika ada suatu masalah yang dihadapi. Potensi siswa bertipe ini bisa dioptimalkan dalam kegiatan kelompok misalnya menjadi juru bicara dalam presentasi kelompok dan kegiatan yang lain yang membutuhkan seorang pengatur atau pemimpin dalam kelompok.

2.      PENDIAM
Tipe ini adalah kebalikan dari tipe cerewet sifatnya bertolakbelakang bagai minyak dan air. Biasanya tipe seperti ini bicaranya irit sekali dan malu-malu kucing. Biasanya siswa ini adalah tipe pemikir. Setiap hal yang akan diungkapkan dipikirkan dulu. Saking lamanya berpikir tidak berani bicara,haha. Siswa ini biasanya memberikan ide-ide brilian tapi kurang berani mengungkapkan.

3.      BERPIKIR KRITIS
Siswa seperti ini adalah siswa yang banyak tanya. Bukan berarti mereka tidak bisa atau kurang mengerti tapi dia ingin mengetahui lebih jauh atau menyari kebenaran dari informasi yang didapat. Jadi tidak serta merta siswa yang begini menelan mentah setiap informasi. Setiap ada informasi yang disampaikan kurang tepat oleh guru maka ia akan mengajukan pertanyaan. Ia akan puas jika memang informasi yang diberikan benar adanya.

4.      ACUH TAK ACUH
Ada saja di setiap kelas tipe seperti ini. Ada saja di setiap momen atau waktu tertentu siswa seperti ini tidak akan memerhatikan pelajaran. Mungkin bosan,kurang dapat perhatian khusus, atau bahkan memang sengaja mengacuhkan pembelajaran yang sedang berlangsung. Tipe seperti ini ketika sudah mengalami kejenuhan akan melakukan hal lain yang dirasa lebih mengasyikan.

5.      TUKANG TANYA
Mirip-mirip dengan tipe berpikir kritis yang sering bertanya saat pelajaran. Bedanya tukang tanya ini selalu menanyakan hal-hal yang terlalu menyimpang dari materi yang diajarkan atau bahkan bermaksud untuk menyari perhatian guru dan siswa lain dengan pertanyaan nyleneh. Siswa seperti ini terkenal humoris tapi juga terkadang menjengkelkan. Pertanyaan yang diajukan padahal sebelumnya sudah dijelaskan berulang namun siswa seperti ini masih belum percaya atau kurang percaya diri dalam menjawab soal misalnya. Pasti akan selalu bertanya apakah jawabannya seperti ini?

6.      PEMERHATI/SERIUS
Siswa ini adalah siswa yang banyak diharapkan oleh guru. Tapi tidak mungkin siswa dalam kelas akan bertipe seperti ini. Tidak ada tantangan atau keberagaman dan pasti akan sangat menjemukan jika semua siswa bertipe seperti ini. Siswa tipe ini akan selalu memerhatikan setiap penjelasan guru dan bisa jadi ia berpikir akan merugi jika sampai tidak memerhatikan. Tipe siswa ini memang lebih mudah diatur dan diajak bekerjasama dalam belajar. Biasanya siswa ini adalah siswa yang lebih menonjol di bidang akademik.

7.      USIL/ BIKIN ULAH
Ada saja tingkah polah yang dilakukan siswa ini. Sering guru menjadi naik pitam oleh tipe siswa ini. Anak ini terkenal energik, gesit,lincah. Saking usilnya anak ini sering bermasalah atau membuat masalah dengan temannya. Guru yang menghadapi anaka seperti ini mesti ekstra kuota sabar. Anak ini banyak menyalurkan keinginannya diluar kendali. Sering mengerjai temannya atau bahkan menyari tantangan untuk dirinya sendiri dengan kegiatan yang menyimpang semisal bercanda dengan temannya sampai kebablasan dan berujung perkelahian. Tipe seperti ini kebanyakan adalah siswa yang kurang memeroleh perhatian.

Nah itu tadi beberapa tipe-tipe siswa yang baru saya kenali,sebenarnya masih banyak sekali tipe-tipe yang lain yang belum saya kenali lagi.haha dan keragaman inilah yang membuat kelas menjadi lebih hidup. tantangan ke depan pastinya akan lebih menarik. Sebagai guru pastinya akan banyak pengalaman unik terkait tipe-tipe siswa yang beragam ini. Indonesia saja Bhinneka Tunggal Ika, jelas saja beragam karakter unik anak yang mesti dikenali. Guru harus mau menjadi orang tua yang mengayomi setiap siswanya. Menyayangi mereka dengan mengenali sifatnya. Melejitkan setiap harapan, asa dan cita-citanya. Hormati setiap perbedaan individu yang memiliki potensi beragam ini. Ciptakan karakter kuat dalam diri siswa dengan pengarahan dan penanaman budi pekerti. Sebagai pelayan dari penerus generasi emas bangsa tugas guru adalah mengarahkan siswa untuk berusaha menghargai setiap individu dengan penanaman dan pembentukan karakter melalui kegiatan positif.

Minggu, 01 November 2015

MENULIS ITU SALAH SATU BENTUK KEBAHAGIAAN


Menulis adalah salah satu dari empat kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia selain mendengarkan, berbicara dan membaca. Pada tulisan sebelumnya saya ungkapkan hal mengenai kemampuan membaca. Nah untuk kali ini saya akan berbagi mengenai teman dari membaca yakni menulis berdasarkan apa yang saya tahu. Menulis merupakan mencurahkan suatu bentuk pemikiran kedalam bentuk tulisan. Mudahkah kita menuliskan sesuatu? Hal itu sebenarnya tergantung dari si pelaku. Kalau prinsip saya sebagai pemula tulis saja apa yang dalam pikiran tanpa perlu banyak pertimbangan atau alasan ini itu dan lebih penting memproduksi satu tulisan utuh daripada tidak sama sekali. Yang terpikirkan yang tertuliskan. Kemampuan dasar dalam menulis tidak serta merta hadir begitu saja. Perlu banyak latihan dan kesediaan untuk rela berkorban. Salah satunya dengan rajin membaca berbagai macam bacaan. Kegiatan membaca saling mendukung dengan kegiatan menulis. Semakin banyak membaca buku dari berbagai macam jenis maka akan semakin banyak wawasan bahkan ide yang bisa dituangkan kembali menjadi bentuk tulisan. Bagaimana bisa menulis dengan baik kalau membaca saja susah ditambah malas ujungnya buntu mau mencurahkan apa. Sebenarnya sederhananya bisa melatih kegiatan menulis dengan tulisan ringan tentang kehidupan pribadi, membuat pantun atau puisi. Awal menulis diawali dulu dengan tulisan ringan dan terpenting konsisten dan disiplin dalam menulis. Tulisan ini saya buat juga sebenarnya melatih kedisiplinan saya untuk tetap konsisten menulis minimal seminggu sekali.hehe.... Alasan saya supaya tidak menumbuhkan akar malas kembali.

Membaca dan menulis adalah satu paket kegiatan. Menulis tanpa membaca juga tidak akan meningkatkan banyak ide tulisan dan sudut pandang yang beragam. Begitu juga dengan membaca tanpa menulis,tidak tersalurkan ide-ide yang seyogyanya bisa dibagi kepada orang lain akan menghambat keran pemikiran yang harusnya dialirkan dalam bentuk tulisan supaya ada banyak manfaat entah itu ilmu atau informasi dari bacaan yang dinikmati dari buku bacaan yang dibaca. Bukanlah lebih enak berbagi (sodaqoh ilmu) daripada disimpan sendiri dan bisa menjadi sarana sharing tentang berbagai hal. Tuangkan saja berbagai bentuk pemikiran ke dalam tulisan agar tidak memenuhi otak. Kalau hanya ditumpuk saja hanya akan menjadi beban yang tak tersalurkan atau sesuatu yang bermanfaat tetapi menguap begitu saja.

Menulis memang diawal terasa berat. Mau menulis saja bingung. Masalahnya belum terbiasa dan juga belum menjadi kebutuhan. Ini yang juga masih saya alami. Sesuatu memang selalu berat diawal. Banyak sekali godaannya mulai dari rasa malas lalu buat apa menulis toh tidak ada yang baca atau mengapresiasi. Tak perlu merisaukan hal itu. Bagi saya sudah tulis saja apa yang menjadi keinginan hati dan pikiran dari hal-hal sederhana sehingga berbuah satu tulisan. Hal lain ada sarana untuk menyalurkan pemikiran yang harus dimuntahkan sehingga tidak ada ganjalan dalam diri sendiri. Tidak ada salahnya menuliskan apa yang dipikirkan daripada hanya update status di sosial media saja hitung-hitung juga melatih otak untuk senam imajinasi. Langkah awal, menulis saja tanpa perlu merisaukan tata bahasa atau susunan kalimat yang masih berantakan. Nanti lama-lama hal itu bisa diatasi dengan kebiasaan dan kekonsistenan dalam menulis. Bahasa tulis lambat laun akan tertata baik seiring dengan makin seringnya menulis. Tapi perlu diingat juga jangan pernah untuk melupakan kegiatan membaca. Hal ini sebagai acuan juga dalam menambah referensi gaya bahasa dalam menulis. Beragam manfaat dari menulis pasti akan dirasakan kalau benar-benar diniatkan. Saya juga masih belajar menyoba untuk minimal membuat satu tulisan setiap minggunya. Saya ingin belajar konsisten terhadap komitmen yang saya buat sendiri. Saya tidak ingin mengingkarinya. Makanya saya menuliskan hal ini. Saya tidak ingin merajut kembali benang ruwet di otak saya. Saya tidak mau menumpulkan pikiran dari rasa malas yang mendera. Perlu rasanya memberikan otak wahana rekreasi yang dicurahkan dalam bentuk tulisan supaya senantiasa pemikiran menjadi terbuka dan selalu fresh.

Menulis itu membuat bahagia.
Menulis itu menyehatkan jiwa.
Menulis itu menjadikan yang tidak ada menjadi ada.
Menulis itu membuat hidup.
Menulis itu menyenangkan.
Menulis itu menenangkan.
Menulis itu kebutuhan.
Menulis itu obat.
Menulis itu menjadikan yang sulit menjadi mudah.
Menulis itu pelepas penat.
Menulis itu ladang rejeki.
Menulis itu sarana berbagi.
Menulis itu pengingat diri.
Menulis itu sarana bersosialisasi.
Menulis itu lampu kehidupan.
Menulis itu menyeimbangkan.
Menulis itu .......

Ah rasanya masih banyak sekali manfaat dari menulis yang jika dijabarkan tak berujung. Banyak sekali manfaat dari menulis yang bisa dirasakan. Yakinlah hidupmu akan bahagia dengan menulis. Yakinlah hidupmu akan menyenangkan dengan menulis. Yakini saja apa yang menjadi keyakinan hatimu. Lewat tulisan kita bisa berbagi dengan sesama bahkan sampai cucu-cucu kita kelak masih bisa menikmati tulisan kita walau kehadiran kita di muka bumi sudah tiada.

MENULIS MEMBUAT BAHAGIA,MENULIS MEMBUAT JIWAMU MUDA
BERBAGI SEBAGAI PENGINGAT DIRI

Minggu, 25 Oktober 2015

RENDAHNYA TRADISI MEMBACA DI SEKOLAH

    

   Berapa lama waktu yang disisihkan untuk sekedar mengunjungi perpustakaan sekolah? atau bagaimana kondisi perpustakaan sekolah di tempat anda belajar atau bekerja ? seringkah berkunjung atau ada manfaat dari perpustakaan yang tersedia? Pertanyaan ini merupakan salah satu keprihatinan saya sendiri ketika mengamati betapa kurang pentingnya atau dilihat sebelah mata bagaimana perpustakaan sekolah yang tersedia tidak dimanfaatkan dengan baik oleh semua warga sekolah baik guru maupun siswa. Perpustakaan hanya dianggap sebagai pelengkap fasilitas di sekolah saja. Kurang diopeni (dirawat) dan diperhatikan. Padahal banyak beragam manfaat dari perpustakaan di sekolah yang bisa digunakan. Bisa digunakan untuk sarana bertukar pikiran bersama teman dari bacaan yang dibaca,menambah wawasan dari berbagai macam bacaan yang tidak ditemui dalam buku pelajaran, sebagai sarana bagi guru untuk menambah wawasannya tidak melulu mengandalkan buku paket yang sudah usang dan tidak diperbarui. Namun semuanya masih sebatas angan-angan. Katanya buku adalah jendela dunia, tapi kalau untuk berkunjung dan sekedar membaca saja tidak pernah bagaimana mau membuka jendela? Yang ada terkurung di balik jendela.

            Realita yang terjadi dan sharing dari rekan guru di sekolah lain, memang kebanyakan perpustakaan sekolah kurang diperhatikan dalam perkembangannya. Padahal perpustakaan ini jika difungsikan dengan baik akan memberikan manfaat yang luar biasa baik untuk semua warga sekolah. Dapat digunakan untuk ajang kreativitas guru maupun siswa melalui berbagai kegiatan semacam membaca berjamaah,lomba poster,lomba baca puisi atau lomba bercerita dan kegiatan lain yang menunjang pembelajaran. Kenyataannya ruang perpustakaan kebanyakan hanya dijadikan semacam gudang untuk menumpuk buku,alat peraga, media atau poster pembelajaran yang sekiranya masih terbungkus rapi dan jarang dipakai. Sampai-sampai ruangan yang seharusnya bersih,rapi dan nyaman ini berubah menjadi berdebu,bersarang, berayap, bahkan berhantu,haha. Saya turut prihatin dengan kondisi ini di jaman sekolah saya dulu saja buku bacaan rasanya menjadi barang mewah yang kadang diperebutkan tapi sekarang dilirik saja tidak. Sepinya pengunjung, baik itu guru dan siswa rasanya sudah tidak butuh lagi bahan bacaan. Lantas bagaimana pengetahuan bertambah kalau untuk membaca saja susah. Apa yang salah dari kurangnya minat baca warga sekolah? mungkin dari pelayanan perpustakaan atau memang tradisi membaca yang masih rendah. Kalau dari faktor pelayanan perpustakaan yang kurang maksimal bisa saja karena ruang yang digunakan tidak nyaman,berdebu dan tak terawat. Hal ini bisa menjadi sebab siswa atau guru kurang tertarik mengunjungi perpustakaan. Lain hal jika perpustakaan bagus dari pelayanan dan penataan maka seharusnya siswa atau guru menjadi betah untuk mengunjunginya. Tapi ternyata hal ini tidak menjamin ada juga perpustakaan yang baik tapi juga sepi pengunjung. Sebenarnya hal yang lebih penting adalah kesadaran warga sekolah untuk memanfaatkan perpustakaan itu sendiri sehingga tradisi membaca menjadi suatu kebutuhan.

     Keprihatinan saya menimbulkan rasa penasaran, bagaimana untuk menumbuhkan minat baca siswa untuk sering berkunjung ke perpustakaan bahkan kalau bisa gurunya sekalian. Sudah jarang sekali saya lihat guru bermain ke perpustakaan untuk sekedar menyari bahan ajar tambahan atau alat peraga yang masih terbungkus rapi. Buat apa benda-benda yang hanya teronggok dan masih mulus dan perawan. Kalau bisa ngomong bahkan mereka pun mungkin menangis kenapa tak pernah dipakai atau dibaca. Buku-buku dan media pembelajaran akan menangis setiap malam karena mereka merasa tidak bermanfaat karena tidak dimanfaatkan.

Rasa penasaran ini membawa saya untuk menyoba untuk membenahi perpustakaan yang ada. Mulai dari penataan buku, ruang dan kadang saya cicil administrasi perpustakaan yang notabene saya tidak tahu. Saya belajar otodidak tentang ilmu perpustakaan karena basic saya dari keguruan. Walau untuk saat ini masih sebatas pelabelan buku dan pembuatan katalog. Tidak mudah memang memulai dari nol perlu ketekunan apalagi buku-buku di sekolah saya berjumlah ribuan dan belum tersentuh. Hasrat saya untuk menghidupkan kembali perpustakaan sekolah yang harus membawa manfaat. Eman-eman kalau menurut saya. Ini kebutuhan siswa, mereka harus diasup oleh banyak bacaan sebagai bekalnya kelak. Saya ingin menarik minat baca siswa supaya mau memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang rekreasi pikiran,pengembangan diri melalui kegiatan kreatif, dan penyaluran bakat dan minat. Memang saya akui siswa masih belum tertarik oleh bacaan-bacaan yang ada di perpustakaan. Padahal menurut saya bukunya bagus-bagus sebagai penambah wawasan mereka. Tidak hanya buku pelajaran tapi ada juga buku keterampilan-keterampilan yang bila mereka bisa praktekkan bisa meningkatkan soft skill siswa. Misalnya, buku memasak,buku membuat kerajinan dari kertas atau barang bekas dan masih banyak lagi. Kalau saya menjadi siswa sekarang alangkah beruntungnya banyak bacaan yang bagus.

          Kurangnya minat baca siswa ini menggugah saya untuk mengajak mereka untuk sering-sering pergi ke perpustakaan. Saya juga perlu berjuang berbenah supaya perpustakaan sekolah dapat dilirik oleh siswa kembali. Jadwal kunjungan dan layanan saya jalankan kembali. Pembuatan kartu perpustakaan bagi anggota saya berikan. Peminjaman buku kembali dilayani walau sampai saat ini banyak buku yang tak kembali, tapi tidak menjadi masalah yang penting mereka mau berkunjung ke perpustakaan. Semenjak hal ini saya lakukan saya libatkan siswa juga untuk membantu saya dalam mengelola perpustakaan. Saya minta bantuan beberapa anak untuk menjadi petugas pencatat peminjaman jika saya sedang tidak bisa melayani. Saya dibantu juga dalam penataan buku yang sekiranya banyak buku berantakan kemana-kemana setelah jam kunjungan. Saya lebih senang dan membiarkan rak buku berantakan daripada tertata rapi tapi tak pernah dibaca. Melibatkan siswa dalam pelayanan perpustakaan ternyata juga membawa manfaat, perpustakaan yang dulunya terkunci rapat sekarang mulai ada pengunjung walau hanya beberapa saja. Sudah patut bersyukur masih ada yang berminat memanfaatkan perpustakaan. Target saya adalah mengajak lebih banyak siswa untuk berkunjung ke perpustakaan dan membudayakan kegiatan membaca di sekolah.

Minat siswa untuk membaca sampai saat ini masih kurang. Mungkin kurang pembiasaan, bimbingan, atau kurangnya waktu. Kebanyakan siswa datang ke perpustakaan saat jam istirahat itu saja banyak dijalani dengan kegiatan mengobrol. Saat istirahat siswa juga masih tertarik bermain dengan temannya saja tapi tidak sekalipun dalam satu minggu membaca di perpustakaan. Peran guru dalam mengarahkan siswanya untuk menyari materi pembelajaran juga kurang. Gurunya saja tidak pernah berkunjung di perpustakaan bagaimana mau mengajak siswanya. Kurang dimanfaatkan bahan bacaan yang ada walau sebenarnya banyak bacaan yang menunjang siswa untuh mengeksplorasi lebih pengetahuan yang di dapat dari berbagai sumber bacaan. Ada tantangan untuk menumbuhkan budaya membaca. Perlu rasanya ada daya tarik yang harus saya rencanakan. Melibatkan siswa sebagai pengurus harian layanan sudah saya lakukan walau belum optimal.

Rencana jangka pendek saya adalah pertama tetap melakukan pelayanan peminjaman secara manual melalui pencatatan di buku, sebenarnya akan lebih enak dan cepat jika dengan sistem otomasi tapi saya rasa sdm yang ada belum mumpuni karena tidak ada pengelola yang memiliki basic dari perpustakaan. Kedua pengadaan promosi perpustakaan melalui berbagai kegiatan dengan melibatkan rekan guru yang lain semacam jam kunjungan wajib setiap kelas selama 30 menit atau 1 jam dalam sehari menurut jam kunjungan. Jam kunjungan wajib ini memang bersifat memaksa supaya ada kegiatan membaca yang dilakukan baik dikaitkan dengan pembelajaran atau diluar kegiatan tambahan. Pembiasaan untuk sekarang sekiranya harus dengan paksaan...hehehe. Rencana ketiga kegiatan pengembangan diri melalui pembuatan sinopsis cerita, lomba baca puisi dan bercerita, atau pemberian hadiah bagi siswa yang sering meminjam buku. Rencana keempat adalah pembuatan majalah dinding melalui karya-karya siswa yang dikumpulkan dan diseleksi jadi setiap bulan akan ada karya-karya yang dipajang dan akan terus berganti. Sejauh ini minat baca siswa saya amati sedikit nampak mengalami perkembangan dilihat dari peminjaman buku yang masih berjalan walau kebanyakan buku dibawa pulang dan dibaca di rumah dan baru sedikit siswa yang memanfaatkan waktu untuk membaca buku di perpustakaan saat jam kunjungan, sekiranya saya sudah bersyukur mereka masih mau datang ke tempat yang semula sepi dan tak ada aktivitas ini,haha. Semoga rencana saya untuk menarik minat dan budaya membaca siswa selama di sekolah dapat menjadi realisasi nyata untuk pengembangan diri siswa khususnya dan sekolah umumnya. Saya ingin siswa-siswa sekarang mulai melirik buku sebagai kebutuhan dan penambah wawasan mereka. Mereka menjadi antusias untuk membaca bahkan kalau bisa dengan menulis dan membuat karya nyata. Hal paling penting dulu adalah mereka sudah membudayakan tradisi membaca. Keep reading !!!

Baca buku sebagai kebutuhan, otak layaknya otot yang harus dilatih
 “A room without books is like a body without soul" 
- Marcus Jullius Cicero -

BERBAGI SEBAGAI PENGINGAT DIRI

Minggu, 18 Oktober 2015

HAL-HAL YANG TIDAK DISUKAI OLEH SISWA

 
        
Hidup kita pasti terasa kurang sensasi jika tidak ada orang yang membenci atau tidak menyukai. Setiap orang adakalanya tidak menyukai satu sama lain. Dalam suatu hubungan sosial masyarakat pun setiap individu yang berinteraksi ada saatnya juga beberapa pihak tidak suka dengan pihak lain yang memiliki cara pandang tersendiri. Inilah uniknya kehidupan di bumi.
Begitu juga hubungan antara guru dan siswa di sekolah. Interaksi mereka sungguh beraneka ragam. Ada yang menjaga jarak hubungan antara guru dan siswa. Ada pula yang dekat dengan siswa. Itu semua tergantung dari pilihan masing-masing. Secara umum interaksi antara guru dan siswa seharusnya berjalan dengan biasa dan normal tanpa ada masalah. Mereka selalu bertemu setiap hari mengadakan kegiatan belajar mengajar baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas. interaksi itu pun seharusnya menjadikan siswa senang dalam mengikuti pelajaran.
Kondisi sekarang kebanyakan siswa yang kurang antusias dalam mengikuti pelajaran. Bisa jadi kurang suka dengan guru tertentu, tidak suka dengan pelajaran tertentu, atau cara mengajar gurunya yang tidak asik. Hal ini yang pernah saya alami ketika dulu menjadi siswa. Waktu itu beberapa hal yang tidak saya sukai diantaranya adalah cara mengajar guru yang kurang variatif. Ada juga sebab lain yang saya rasakan yakni peminatan pada pelajaran tertentu. Meski gurunya enak dalam mengajar tapi karena tidak ada minat pada pelajaran itu jadinya ya sekedarnya dalam mengikuti pelajaran tersebut dibandingkan mata pelajaran yang lebih diminati.
Nah kali ini saya akan tuliskan beberapa hal yang tidak disukai siswa berdasarkan apa yang saya rasakan dan saya alami langsung. Kebetulan saya sekarang sudah tidak menjadi siswa dan beralih fungsi menjadi guru. Hal-hal berikut ini banyak yang terjadi dan menimpa saya. Ini semua mungkin akibat saya kurang ajar dan kualat dulu saat menjadi siswa, hehe...

        1.   Mudah Marah
Lha ini sikap guru yang mudah sekali tersinggung dan naik darah. Sedikit-sedkit marah,ada waktu dimana siswa menyari perhatian, si guru langsung bereaksi dengan berteriak atau mengancam dengan hukuman. Hal ini seharusnya mulai dikurangi. Wong ya siswa itu butuh perhatian ya wajar mereka seperti itu. Trus bagaimana dengan saya? Secara saya masih minim jam terbang ya kadangkala saya juga masih bersikap begini,haha. Alangkah lebih baiknya tidak marah-marah dihadapan siswa supaya kesehatan mental siswa dan guru tetap terjaga.

       2.      Pilih Kasih
Setiap siswa ingin diberikan perhatian yang sama oleh guru. Mereka butuh perhatian selama di sekolah,hanya saja guru satu harus memerhatikan banyak siswa. Alhasil mungkin hanya beberapa siswa saja yang mendapatkan kepuasan perhatian dan kecenderungan guru yang lebih pilih kasih terhadap anak-anak yang biasanya sebagai bintang kelas atau yang dekat dengan guru. Siswa akan menganggap guru itu tak asik kalau sudah pilih kasih begini,sehingga respect mereka menjadi berkurang. Memberikan perhatian pada semua siswa tanpa pilih kasih adalah hal hebat yang harus dilakukan guru sehingga tidak ada siswa yang merasa tersisihkan.

        3.      Berpakaian Kurang Rapi
Guru dimana-mana selalu menjadi role model bagi siswanya. Setiap hari bertemu dan saling pandang. Siswa pastinya akan selalu mengamati penampilan gurunya. Sadar atau tidak siswa juga menilai penampilan  gurunya. Siswa akan suka terhadap guru yang mampu menjaga penampilannya. Pakaiannya rapi,rambutnya tertata, dan wangi pastinya siswa akan betah berlama-lama dengan gurunya. Beda dengan guru yang berpakaian ala kadarnya. Ala kadarnya ini tidak sama dengan sederhana. Siswa akan merasa kurang nyaman dengan guru yang berpakaian semrawut bajunya kisut, rambut acak-acakan bau badan lagi. Bisa jadi celaan siswa bahkan aib bagi guru itu sendiri. Jadi selalu jaga penampilan supaya siswa nempel terus,hehe.

4.      Jarang Masuk
Guru yang jarang masuk sangat merugikan siswa. Siswa merasa guru tersebut tidak sungguh-sungguh dalam memberikan ilmu dan lebih mementingkan kepentingan sendiri. Bagaimana mau disiplin siswanya,kalau gurunya saja tidak memberikan contoh kedisiplinan juga dalam hal kehadiran.

         5.    Suka Memberi PR Tanpa Mengoreksi
“Kerjakan pr hal ... sampai ...” kalimat wajib ini pasti sering terdengar menjelang pelajaran usai. Sebenarnya siswa tidak merasa keberatan oleh tugas yang diberikan karena tugas itu sebagai latihan di rumah.  Akan tetapi mereka bisa merasa sia-sia apabila guru tidak pernah mengoreksi pr yang diberikan atau mengoreksi tapi asal-asalan. Banyak siswa akan kecewa,yang semula rajin  mengerjakan menjadi malas karena semangat mereka mulai kendor. Siswa beranggapan gurunya tidak menghormati jerih payah dan keseriusannya dalam mengerjakan pr. Apalagi mereka tahu kalau pr yang diberikan tidak memengaruhi nilai rapornya. Hal ini akan berdampak siswa menjadi tidak mau mengerjakan atau mengerjakan dengan asal-asalan. Inilah pentingnya sikap apresiatif guru terhadap pr siswa. Guru harus konsisten dan mau meluangkan waktu untuk mengoreksi pr yang diberikan. Dengan begitu siswa merasa usahanya diapresiasi dengan baik oleh guru dan mereka tetap sungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap tugas yang diberikan.

       6.      Berkata Kasar
Perkataan guru adalah salah satu hal yang dinilai dan didengar siswa. Bagaimana ia bertutur kata,sopan atau kasar. Setiap ucapan yang keluar dari mulut guru harusnya disampaikan dengan lembut dan santun. Tidak sebaliknya secara kasar yang berakibat menimbulkan kebencian dan permusuhan. Siswa bisa saja membalas dengan cemoohan terhadap guru yang sering berkata kasar. Walau sering siswa membuat kejengkelan, sebagai orang yang sudah dewasa wajibnya mengendalikan setiap perkataan dan perbuatan. Guru sebagai teladan harus memberikan contoh bagaimana bersikap dan berkata secara santun.  Agama saja menganjurkan berkata yang baik,kalau tidak bisa lebih baik diam.

       7.      Suka Menyuruh
Sering lho kejadian ini terjadi. Siswa membenci gurunya karena gurunya sering menyuruh seenaknya. Kalau untuk kepentingan siswa atau bersama tidak masalah. Usahakan tidak menyuruh siswa seenaknya kalau guru tersebut masih bisa melakukan sendiri. Siswa menganggap gurunya seorang otoriter yang egois jika setiap kali menyuruh untuk kepentingan dirinya sendiri.

       8.      Menghukum Semena-mena
Jaman sekarang siswa dihukum lama-lama seperti kewajaran saja. Bahkan ada siswa yang lebih senang dihukum daripada harus mengikuti pelajaran. Guru menghukum siswa sebenarnya tidak masalah jika memang beralasan dan sebagai teguran, yang menjadi masalah kalau bentuk hukumannya sudah melecehkan harga diri siswa. Hukuman yang diberikan jangan didasari atas kebencian,permusuhan dan emosi yang tak terkendali. Berikan hukuman yang bersifat positif. Misalnya, meringkas materi pelajaran,memberikan hafalan materi,memberikan tugas tambahan dan masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan. Walau siswa terhukum tapi ia tetap masih dihargai sehingga mereka tetap akan hormat pada guru yang memberikan hukuman.
Beda kalau diberikan hukuman tidak wajar semacam harus berdiri di depan kelas sampai bel usai hal ini justru menimbulkan benih kebencian dari siswa. Siswa akan bertindak dengan caranya sendiri. Bisa saja setiap pelajaran ia akan bertindak onar karena ia merasa pernah dilecehkan. Ingat orang yang menanam akan menuai juga. Jadi perlu menjaga stabilitas emosional dan spiritual bagi guru itu sangat penting.

9.      Cuek di dalam dan luar kelas
Sebagai manusia kita harus membumi. Begitu juga sebagai guru, harus menjaga hubungan dengan siswanya. Jangan pernah segan untuk menyapa siswa walau hanya dengan senyum,salam, dan sapaan. Dengan 3S  akan terjalin hubungan emosional yang positif antara guru dan siswa. Guru yang terlalu cuek dengan siswanya tidak akan dicintai. Siswa juga akan segan untuk berinteraksi dengan guru yang cuek. Tetap menjaga hubungan baik jangan menganggap posisi guru lebih tinggi dan tidak pantas siswa untuk bertemu bahkan berinteraksi.

10.  Susah Dimintai Tolong
Menolong siswa harus menjadi karakter kuat guru. Membantu dalam belajar, kesulitan dalam memahami tugas, menjenguk siswa yang sedang sakit. Kalau guru susah dimintai tolong dan banyak alasan ini bisa menyakiti perasaan siswa. Ada hubungan timbal balik yang harus dijalani guru dan siswa. Guru harus menghindari sikap ini. Bukankan lebih enak kalau tercipta simbiosis mutualisme diantara guru dan siswa.

Itu tadi beberapa hal yang biasanya tidak disukai siswa dari sikap guru. Sebenarnya masih banyak hal lagi yang bisa kita amati dan renungkan. Tulisan ini sebagai sarana berbagi kepada pendidik dan utamanya sebenarnya sebagai pengingat diri saya bahkan tamparan ke muka sendiri untuk menjadi guru yang lebih memerhatikan siswanya.

BERBAGI SEBAGAI PENGINGAT DIRI