Enjoy your life !!!





Minggu, 01 November 2015

MENULIS ITU SALAH SATU BENTUK KEBAHAGIAAN


Menulis adalah salah satu dari empat kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia selain mendengarkan, berbicara dan membaca. Pada tulisan sebelumnya saya ungkapkan hal mengenai kemampuan membaca. Nah untuk kali ini saya akan berbagi mengenai teman dari membaca yakni menulis berdasarkan apa yang saya tahu. Menulis merupakan mencurahkan suatu bentuk pemikiran kedalam bentuk tulisan. Mudahkah kita menuliskan sesuatu? Hal itu sebenarnya tergantung dari si pelaku. Kalau prinsip saya sebagai pemula tulis saja apa yang dalam pikiran tanpa perlu banyak pertimbangan atau alasan ini itu dan lebih penting memproduksi satu tulisan utuh daripada tidak sama sekali. Yang terpikirkan yang tertuliskan. Kemampuan dasar dalam menulis tidak serta merta hadir begitu saja. Perlu banyak latihan dan kesediaan untuk rela berkorban. Salah satunya dengan rajin membaca berbagai macam bacaan. Kegiatan membaca saling mendukung dengan kegiatan menulis. Semakin banyak membaca buku dari berbagai macam jenis maka akan semakin banyak wawasan bahkan ide yang bisa dituangkan kembali menjadi bentuk tulisan. Bagaimana bisa menulis dengan baik kalau membaca saja susah ditambah malas ujungnya buntu mau mencurahkan apa. Sebenarnya sederhananya bisa melatih kegiatan menulis dengan tulisan ringan tentang kehidupan pribadi, membuat pantun atau puisi. Awal menulis diawali dulu dengan tulisan ringan dan terpenting konsisten dan disiplin dalam menulis. Tulisan ini saya buat juga sebenarnya melatih kedisiplinan saya untuk tetap konsisten menulis minimal seminggu sekali.hehe.... Alasan saya supaya tidak menumbuhkan akar malas kembali.

Membaca dan menulis adalah satu paket kegiatan. Menulis tanpa membaca juga tidak akan meningkatkan banyak ide tulisan dan sudut pandang yang beragam. Begitu juga dengan membaca tanpa menulis,tidak tersalurkan ide-ide yang seyogyanya bisa dibagi kepada orang lain akan menghambat keran pemikiran yang harusnya dialirkan dalam bentuk tulisan supaya ada banyak manfaat entah itu ilmu atau informasi dari bacaan yang dinikmati dari buku bacaan yang dibaca. Bukanlah lebih enak berbagi (sodaqoh ilmu) daripada disimpan sendiri dan bisa menjadi sarana sharing tentang berbagai hal. Tuangkan saja berbagai bentuk pemikiran ke dalam tulisan agar tidak memenuhi otak. Kalau hanya ditumpuk saja hanya akan menjadi beban yang tak tersalurkan atau sesuatu yang bermanfaat tetapi menguap begitu saja.

Menulis memang diawal terasa berat. Mau menulis saja bingung. Masalahnya belum terbiasa dan juga belum menjadi kebutuhan. Ini yang juga masih saya alami. Sesuatu memang selalu berat diawal. Banyak sekali godaannya mulai dari rasa malas lalu buat apa menulis toh tidak ada yang baca atau mengapresiasi. Tak perlu merisaukan hal itu. Bagi saya sudah tulis saja apa yang menjadi keinginan hati dan pikiran dari hal-hal sederhana sehingga berbuah satu tulisan. Hal lain ada sarana untuk menyalurkan pemikiran yang harus dimuntahkan sehingga tidak ada ganjalan dalam diri sendiri. Tidak ada salahnya menuliskan apa yang dipikirkan daripada hanya update status di sosial media saja hitung-hitung juga melatih otak untuk senam imajinasi. Langkah awal, menulis saja tanpa perlu merisaukan tata bahasa atau susunan kalimat yang masih berantakan. Nanti lama-lama hal itu bisa diatasi dengan kebiasaan dan kekonsistenan dalam menulis. Bahasa tulis lambat laun akan tertata baik seiring dengan makin seringnya menulis. Tapi perlu diingat juga jangan pernah untuk melupakan kegiatan membaca. Hal ini sebagai acuan juga dalam menambah referensi gaya bahasa dalam menulis. Beragam manfaat dari menulis pasti akan dirasakan kalau benar-benar diniatkan. Saya juga masih belajar menyoba untuk minimal membuat satu tulisan setiap minggunya. Saya ingin belajar konsisten terhadap komitmen yang saya buat sendiri. Saya tidak ingin mengingkarinya. Makanya saya menuliskan hal ini. Saya tidak ingin merajut kembali benang ruwet di otak saya. Saya tidak mau menumpulkan pikiran dari rasa malas yang mendera. Perlu rasanya memberikan otak wahana rekreasi yang dicurahkan dalam bentuk tulisan supaya senantiasa pemikiran menjadi terbuka dan selalu fresh.

Menulis itu membuat bahagia.
Menulis itu menyehatkan jiwa.
Menulis itu menjadikan yang tidak ada menjadi ada.
Menulis itu membuat hidup.
Menulis itu menyenangkan.
Menulis itu menenangkan.
Menulis itu kebutuhan.
Menulis itu obat.
Menulis itu menjadikan yang sulit menjadi mudah.
Menulis itu pelepas penat.
Menulis itu ladang rejeki.
Menulis itu sarana berbagi.
Menulis itu pengingat diri.
Menulis itu sarana bersosialisasi.
Menulis itu lampu kehidupan.
Menulis itu menyeimbangkan.
Menulis itu .......

Ah rasanya masih banyak sekali manfaat dari menulis yang jika dijabarkan tak berujung. Banyak sekali manfaat dari menulis yang bisa dirasakan. Yakinlah hidupmu akan bahagia dengan menulis. Yakinlah hidupmu akan menyenangkan dengan menulis. Yakini saja apa yang menjadi keyakinan hatimu. Lewat tulisan kita bisa berbagi dengan sesama bahkan sampai cucu-cucu kita kelak masih bisa menikmati tulisan kita walau kehadiran kita di muka bumi sudah tiada.

MENULIS MEMBUAT BAHAGIA,MENULIS MEMBUAT JIWAMU MUDA
BERBAGI SEBAGAI PENGINGAT DIRI

Minggu, 25 Oktober 2015

RENDAHNYA TRADISI MEMBACA DI SEKOLAH

    

   Berapa lama waktu yang disisihkan untuk sekedar mengunjungi perpustakaan sekolah? atau bagaimana kondisi perpustakaan sekolah di tempat anda belajar atau bekerja ? seringkah berkunjung atau ada manfaat dari perpustakaan yang tersedia? Pertanyaan ini merupakan salah satu keprihatinan saya sendiri ketika mengamati betapa kurang pentingnya atau dilihat sebelah mata bagaimana perpustakaan sekolah yang tersedia tidak dimanfaatkan dengan baik oleh semua warga sekolah baik guru maupun siswa. Perpustakaan hanya dianggap sebagai pelengkap fasilitas di sekolah saja. Kurang diopeni (dirawat) dan diperhatikan. Padahal banyak beragam manfaat dari perpustakaan di sekolah yang bisa digunakan. Bisa digunakan untuk sarana bertukar pikiran bersama teman dari bacaan yang dibaca,menambah wawasan dari berbagai macam bacaan yang tidak ditemui dalam buku pelajaran, sebagai sarana bagi guru untuk menambah wawasannya tidak melulu mengandalkan buku paket yang sudah usang dan tidak diperbarui. Namun semuanya masih sebatas angan-angan. Katanya buku adalah jendela dunia, tapi kalau untuk berkunjung dan sekedar membaca saja tidak pernah bagaimana mau membuka jendela? Yang ada terkurung di balik jendela.

            Realita yang terjadi dan sharing dari rekan guru di sekolah lain, memang kebanyakan perpustakaan sekolah kurang diperhatikan dalam perkembangannya. Padahal perpustakaan ini jika difungsikan dengan baik akan memberikan manfaat yang luar biasa baik untuk semua warga sekolah. Dapat digunakan untuk ajang kreativitas guru maupun siswa melalui berbagai kegiatan semacam membaca berjamaah,lomba poster,lomba baca puisi atau lomba bercerita dan kegiatan lain yang menunjang pembelajaran. Kenyataannya ruang perpustakaan kebanyakan hanya dijadikan semacam gudang untuk menumpuk buku,alat peraga, media atau poster pembelajaran yang sekiranya masih terbungkus rapi dan jarang dipakai. Sampai-sampai ruangan yang seharusnya bersih,rapi dan nyaman ini berubah menjadi berdebu,bersarang, berayap, bahkan berhantu,haha. Saya turut prihatin dengan kondisi ini di jaman sekolah saya dulu saja buku bacaan rasanya menjadi barang mewah yang kadang diperebutkan tapi sekarang dilirik saja tidak. Sepinya pengunjung, baik itu guru dan siswa rasanya sudah tidak butuh lagi bahan bacaan. Lantas bagaimana pengetahuan bertambah kalau untuk membaca saja susah. Apa yang salah dari kurangnya minat baca warga sekolah? mungkin dari pelayanan perpustakaan atau memang tradisi membaca yang masih rendah. Kalau dari faktor pelayanan perpustakaan yang kurang maksimal bisa saja karena ruang yang digunakan tidak nyaman,berdebu dan tak terawat. Hal ini bisa menjadi sebab siswa atau guru kurang tertarik mengunjungi perpustakaan. Lain hal jika perpustakaan bagus dari pelayanan dan penataan maka seharusnya siswa atau guru menjadi betah untuk mengunjunginya. Tapi ternyata hal ini tidak menjamin ada juga perpustakaan yang baik tapi juga sepi pengunjung. Sebenarnya hal yang lebih penting adalah kesadaran warga sekolah untuk memanfaatkan perpustakaan itu sendiri sehingga tradisi membaca menjadi suatu kebutuhan.

     Keprihatinan saya menimbulkan rasa penasaran, bagaimana untuk menumbuhkan minat baca siswa untuk sering berkunjung ke perpustakaan bahkan kalau bisa gurunya sekalian. Sudah jarang sekali saya lihat guru bermain ke perpustakaan untuk sekedar menyari bahan ajar tambahan atau alat peraga yang masih terbungkus rapi. Buat apa benda-benda yang hanya teronggok dan masih mulus dan perawan. Kalau bisa ngomong bahkan mereka pun mungkin menangis kenapa tak pernah dipakai atau dibaca. Buku-buku dan media pembelajaran akan menangis setiap malam karena mereka merasa tidak bermanfaat karena tidak dimanfaatkan.

Rasa penasaran ini membawa saya untuk menyoba untuk membenahi perpustakaan yang ada. Mulai dari penataan buku, ruang dan kadang saya cicil administrasi perpustakaan yang notabene saya tidak tahu. Saya belajar otodidak tentang ilmu perpustakaan karena basic saya dari keguruan. Walau untuk saat ini masih sebatas pelabelan buku dan pembuatan katalog. Tidak mudah memang memulai dari nol perlu ketekunan apalagi buku-buku di sekolah saya berjumlah ribuan dan belum tersentuh. Hasrat saya untuk menghidupkan kembali perpustakaan sekolah yang harus membawa manfaat. Eman-eman kalau menurut saya. Ini kebutuhan siswa, mereka harus diasup oleh banyak bacaan sebagai bekalnya kelak. Saya ingin menarik minat baca siswa supaya mau memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang rekreasi pikiran,pengembangan diri melalui kegiatan kreatif, dan penyaluran bakat dan minat. Memang saya akui siswa masih belum tertarik oleh bacaan-bacaan yang ada di perpustakaan. Padahal menurut saya bukunya bagus-bagus sebagai penambah wawasan mereka. Tidak hanya buku pelajaran tapi ada juga buku keterampilan-keterampilan yang bila mereka bisa praktekkan bisa meningkatkan soft skill siswa. Misalnya, buku memasak,buku membuat kerajinan dari kertas atau barang bekas dan masih banyak lagi. Kalau saya menjadi siswa sekarang alangkah beruntungnya banyak bacaan yang bagus.

          Kurangnya minat baca siswa ini menggugah saya untuk mengajak mereka untuk sering-sering pergi ke perpustakaan. Saya juga perlu berjuang berbenah supaya perpustakaan sekolah dapat dilirik oleh siswa kembali. Jadwal kunjungan dan layanan saya jalankan kembali. Pembuatan kartu perpustakaan bagi anggota saya berikan. Peminjaman buku kembali dilayani walau sampai saat ini banyak buku yang tak kembali, tapi tidak menjadi masalah yang penting mereka mau berkunjung ke perpustakaan. Semenjak hal ini saya lakukan saya libatkan siswa juga untuk membantu saya dalam mengelola perpustakaan. Saya minta bantuan beberapa anak untuk menjadi petugas pencatat peminjaman jika saya sedang tidak bisa melayani. Saya dibantu juga dalam penataan buku yang sekiranya banyak buku berantakan kemana-kemana setelah jam kunjungan. Saya lebih senang dan membiarkan rak buku berantakan daripada tertata rapi tapi tak pernah dibaca. Melibatkan siswa dalam pelayanan perpustakaan ternyata juga membawa manfaat, perpustakaan yang dulunya terkunci rapat sekarang mulai ada pengunjung walau hanya beberapa saja. Sudah patut bersyukur masih ada yang berminat memanfaatkan perpustakaan. Target saya adalah mengajak lebih banyak siswa untuk berkunjung ke perpustakaan dan membudayakan kegiatan membaca di sekolah.

Minat siswa untuk membaca sampai saat ini masih kurang. Mungkin kurang pembiasaan, bimbingan, atau kurangnya waktu. Kebanyakan siswa datang ke perpustakaan saat jam istirahat itu saja banyak dijalani dengan kegiatan mengobrol. Saat istirahat siswa juga masih tertarik bermain dengan temannya saja tapi tidak sekalipun dalam satu minggu membaca di perpustakaan. Peran guru dalam mengarahkan siswanya untuk menyari materi pembelajaran juga kurang. Gurunya saja tidak pernah berkunjung di perpustakaan bagaimana mau mengajak siswanya. Kurang dimanfaatkan bahan bacaan yang ada walau sebenarnya banyak bacaan yang menunjang siswa untuh mengeksplorasi lebih pengetahuan yang di dapat dari berbagai sumber bacaan. Ada tantangan untuk menumbuhkan budaya membaca. Perlu rasanya ada daya tarik yang harus saya rencanakan. Melibatkan siswa sebagai pengurus harian layanan sudah saya lakukan walau belum optimal.

Rencana jangka pendek saya adalah pertama tetap melakukan pelayanan peminjaman secara manual melalui pencatatan di buku, sebenarnya akan lebih enak dan cepat jika dengan sistem otomasi tapi saya rasa sdm yang ada belum mumpuni karena tidak ada pengelola yang memiliki basic dari perpustakaan. Kedua pengadaan promosi perpustakaan melalui berbagai kegiatan dengan melibatkan rekan guru yang lain semacam jam kunjungan wajib setiap kelas selama 30 menit atau 1 jam dalam sehari menurut jam kunjungan. Jam kunjungan wajib ini memang bersifat memaksa supaya ada kegiatan membaca yang dilakukan baik dikaitkan dengan pembelajaran atau diluar kegiatan tambahan. Pembiasaan untuk sekarang sekiranya harus dengan paksaan...hehehe. Rencana ketiga kegiatan pengembangan diri melalui pembuatan sinopsis cerita, lomba baca puisi dan bercerita, atau pemberian hadiah bagi siswa yang sering meminjam buku. Rencana keempat adalah pembuatan majalah dinding melalui karya-karya siswa yang dikumpulkan dan diseleksi jadi setiap bulan akan ada karya-karya yang dipajang dan akan terus berganti. Sejauh ini minat baca siswa saya amati sedikit nampak mengalami perkembangan dilihat dari peminjaman buku yang masih berjalan walau kebanyakan buku dibawa pulang dan dibaca di rumah dan baru sedikit siswa yang memanfaatkan waktu untuk membaca buku di perpustakaan saat jam kunjungan, sekiranya saya sudah bersyukur mereka masih mau datang ke tempat yang semula sepi dan tak ada aktivitas ini,haha. Semoga rencana saya untuk menarik minat dan budaya membaca siswa selama di sekolah dapat menjadi realisasi nyata untuk pengembangan diri siswa khususnya dan sekolah umumnya. Saya ingin siswa-siswa sekarang mulai melirik buku sebagai kebutuhan dan penambah wawasan mereka. Mereka menjadi antusias untuk membaca bahkan kalau bisa dengan menulis dan membuat karya nyata. Hal paling penting dulu adalah mereka sudah membudayakan tradisi membaca. Keep reading !!!

Baca buku sebagai kebutuhan, otak layaknya otot yang harus dilatih
 “A room without books is like a body without soul" 
- Marcus Jullius Cicero -

BERBAGI SEBAGAI PENGINGAT DIRI

Minggu, 18 Oktober 2015

HAL-HAL YANG TIDAK DISUKAI OLEH SISWA

 
        
Hidup kita pasti terasa kurang sensasi jika tidak ada orang yang membenci atau tidak menyukai. Setiap orang adakalanya tidak menyukai satu sama lain. Dalam suatu hubungan sosial masyarakat pun setiap individu yang berinteraksi ada saatnya juga beberapa pihak tidak suka dengan pihak lain yang memiliki cara pandang tersendiri. Inilah uniknya kehidupan di bumi.
Begitu juga hubungan antara guru dan siswa di sekolah. Interaksi mereka sungguh beraneka ragam. Ada yang menjaga jarak hubungan antara guru dan siswa. Ada pula yang dekat dengan siswa. Itu semua tergantung dari pilihan masing-masing. Secara umum interaksi antara guru dan siswa seharusnya berjalan dengan biasa dan normal tanpa ada masalah. Mereka selalu bertemu setiap hari mengadakan kegiatan belajar mengajar baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas. interaksi itu pun seharusnya menjadikan siswa senang dalam mengikuti pelajaran.
Kondisi sekarang kebanyakan siswa yang kurang antusias dalam mengikuti pelajaran. Bisa jadi kurang suka dengan guru tertentu, tidak suka dengan pelajaran tertentu, atau cara mengajar gurunya yang tidak asik. Hal ini yang pernah saya alami ketika dulu menjadi siswa. Waktu itu beberapa hal yang tidak saya sukai diantaranya adalah cara mengajar guru yang kurang variatif. Ada juga sebab lain yang saya rasakan yakni peminatan pada pelajaran tertentu. Meski gurunya enak dalam mengajar tapi karena tidak ada minat pada pelajaran itu jadinya ya sekedarnya dalam mengikuti pelajaran tersebut dibandingkan mata pelajaran yang lebih diminati.
Nah kali ini saya akan tuliskan beberapa hal yang tidak disukai siswa berdasarkan apa yang saya rasakan dan saya alami langsung. Kebetulan saya sekarang sudah tidak menjadi siswa dan beralih fungsi menjadi guru. Hal-hal berikut ini banyak yang terjadi dan menimpa saya. Ini semua mungkin akibat saya kurang ajar dan kualat dulu saat menjadi siswa, hehe...

        1.   Mudah Marah
Lha ini sikap guru yang mudah sekali tersinggung dan naik darah. Sedikit-sedkit marah,ada waktu dimana siswa menyari perhatian, si guru langsung bereaksi dengan berteriak atau mengancam dengan hukuman. Hal ini seharusnya mulai dikurangi. Wong ya siswa itu butuh perhatian ya wajar mereka seperti itu. Trus bagaimana dengan saya? Secara saya masih minim jam terbang ya kadangkala saya juga masih bersikap begini,haha. Alangkah lebih baiknya tidak marah-marah dihadapan siswa supaya kesehatan mental siswa dan guru tetap terjaga.

       2.      Pilih Kasih
Setiap siswa ingin diberikan perhatian yang sama oleh guru. Mereka butuh perhatian selama di sekolah,hanya saja guru satu harus memerhatikan banyak siswa. Alhasil mungkin hanya beberapa siswa saja yang mendapatkan kepuasan perhatian dan kecenderungan guru yang lebih pilih kasih terhadap anak-anak yang biasanya sebagai bintang kelas atau yang dekat dengan guru. Siswa akan menganggap guru itu tak asik kalau sudah pilih kasih begini,sehingga respect mereka menjadi berkurang. Memberikan perhatian pada semua siswa tanpa pilih kasih adalah hal hebat yang harus dilakukan guru sehingga tidak ada siswa yang merasa tersisihkan.

        3.      Berpakaian Kurang Rapi
Guru dimana-mana selalu menjadi role model bagi siswanya. Setiap hari bertemu dan saling pandang. Siswa pastinya akan selalu mengamati penampilan gurunya. Sadar atau tidak siswa juga menilai penampilan  gurunya. Siswa akan suka terhadap guru yang mampu menjaga penampilannya. Pakaiannya rapi,rambutnya tertata, dan wangi pastinya siswa akan betah berlama-lama dengan gurunya. Beda dengan guru yang berpakaian ala kadarnya. Ala kadarnya ini tidak sama dengan sederhana. Siswa akan merasa kurang nyaman dengan guru yang berpakaian semrawut bajunya kisut, rambut acak-acakan bau badan lagi. Bisa jadi celaan siswa bahkan aib bagi guru itu sendiri. Jadi selalu jaga penampilan supaya siswa nempel terus,hehe.

4.      Jarang Masuk
Guru yang jarang masuk sangat merugikan siswa. Siswa merasa guru tersebut tidak sungguh-sungguh dalam memberikan ilmu dan lebih mementingkan kepentingan sendiri. Bagaimana mau disiplin siswanya,kalau gurunya saja tidak memberikan contoh kedisiplinan juga dalam hal kehadiran.

         5.    Suka Memberi PR Tanpa Mengoreksi
“Kerjakan pr hal ... sampai ...” kalimat wajib ini pasti sering terdengar menjelang pelajaran usai. Sebenarnya siswa tidak merasa keberatan oleh tugas yang diberikan karena tugas itu sebagai latihan di rumah.  Akan tetapi mereka bisa merasa sia-sia apabila guru tidak pernah mengoreksi pr yang diberikan atau mengoreksi tapi asal-asalan. Banyak siswa akan kecewa,yang semula rajin  mengerjakan menjadi malas karena semangat mereka mulai kendor. Siswa beranggapan gurunya tidak menghormati jerih payah dan keseriusannya dalam mengerjakan pr. Apalagi mereka tahu kalau pr yang diberikan tidak memengaruhi nilai rapornya. Hal ini akan berdampak siswa menjadi tidak mau mengerjakan atau mengerjakan dengan asal-asalan. Inilah pentingnya sikap apresiatif guru terhadap pr siswa. Guru harus konsisten dan mau meluangkan waktu untuk mengoreksi pr yang diberikan. Dengan begitu siswa merasa usahanya diapresiasi dengan baik oleh guru dan mereka tetap sungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap tugas yang diberikan.

       6.      Berkata Kasar
Perkataan guru adalah salah satu hal yang dinilai dan didengar siswa. Bagaimana ia bertutur kata,sopan atau kasar. Setiap ucapan yang keluar dari mulut guru harusnya disampaikan dengan lembut dan santun. Tidak sebaliknya secara kasar yang berakibat menimbulkan kebencian dan permusuhan. Siswa bisa saja membalas dengan cemoohan terhadap guru yang sering berkata kasar. Walau sering siswa membuat kejengkelan, sebagai orang yang sudah dewasa wajibnya mengendalikan setiap perkataan dan perbuatan. Guru sebagai teladan harus memberikan contoh bagaimana bersikap dan berkata secara santun.  Agama saja menganjurkan berkata yang baik,kalau tidak bisa lebih baik diam.

       7.      Suka Menyuruh
Sering lho kejadian ini terjadi. Siswa membenci gurunya karena gurunya sering menyuruh seenaknya. Kalau untuk kepentingan siswa atau bersama tidak masalah. Usahakan tidak menyuruh siswa seenaknya kalau guru tersebut masih bisa melakukan sendiri. Siswa menganggap gurunya seorang otoriter yang egois jika setiap kali menyuruh untuk kepentingan dirinya sendiri.

       8.      Menghukum Semena-mena
Jaman sekarang siswa dihukum lama-lama seperti kewajaran saja. Bahkan ada siswa yang lebih senang dihukum daripada harus mengikuti pelajaran. Guru menghukum siswa sebenarnya tidak masalah jika memang beralasan dan sebagai teguran, yang menjadi masalah kalau bentuk hukumannya sudah melecehkan harga diri siswa. Hukuman yang diberikan jangan didasari atas kebencian,permusuhan dan emosi yang tak terkendali. Berikan hukuman yang bersifat positif. Misalnya, meringkas materi pelajaran,memberikan hafalan materi,memberikan tugas tambahan dan masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan. Walau siswa terhukum tapi ia tetap masih dihargai sehingga mereka tetap akan hormat pada guru yang memberikan hukuman.
Beda kalau diberikan hukuman tidak wajar semacam harus berdiri di depan kelas sampai bel usai hal ini justru menimbulkan benih kebencian dari siswa. Siswa akan bertindak dengan caranya sendiri. Bisa saja setiap pelajaran ia akan bertindak onar karena ia merasa pernah dilecehkan. Ingat orang yang menanam akan menuai juga. Jadi perlu menjaga stabilitas emosional dan spiritual bagi guru itu sangat penting.

9.      Cuek di dalam dan luar kelas
Sebagai manusia kita harus membumi. Begitu juga sebagai guru, harus menjaga hubungan dengan siswanya. Jangan pernah segan untuk menyapa siswa walau hanya dengan senyum,salam, dan sapaan. Dengan 3S  akan terjalin hubungan emosional yang positif antara guru dan siswa. Guru yang terlalu cuek dengan siswanya tidak akan dicintai. Siswa juga akan segan untuk berinteraksi dengan guru yang cuek. Tetap menjaga hubungan baik jangan menganggap posisi guru lebih tinggi dan tidak pantas siswa untuk bertemu bahkan berinteraksi.

10.  Susah Dimintai Tolong
Menolong siswa harus menjadi karakter kuat guru. Membantu dalam belajar, kesulitan dalam memahami tugas, menjenguk siswa yang sedang sakit. Kalau guru susah dimintai tolong dan banyak alasan ini bisa menyakiti perasaan siswa. Ada hubungan timbal balik yang harus dijalani guru dan siswa. Guru harus menghindari sikap ini. Bukankan lebih enak kalau tercipta simbiosis mutualisme diantara guru dan siswa.

Itu tadi beberapa hal yang biasanya tidak disukai siswa dari sikap guru. Sebenarnya masih banyak hal lagi yang bisa kita amati dan renungkan. Tulisan ini sebagai sarana berbagi kepada pendidik dan utamanya sebenarnya sebagai pengingat diri saya bahkan tamparan ke muka sendiri untuk menjadi guru yang lebih memerhatikan siswanya.

BERBAGI SEBAGAI PENGINGAT DIRI

Kamis, 14 Mei 2015

TENTANG KEHIDUPAN SEKOLAH DASAR

               Mengajar dan mendidik sudah menjadi hal yang wajar sekiranya bagi seorang guru. Selama enam hari bertatap muka dengan siswanya entah di dalam kelas atau di luar kelas, sudah menjadi rutinitas dan tugas pendidik. Mulai dari menyiapkan rencana pembelajaran sampai implementasinya dalam pembelajaran. Persiapannya pun tak semata-mata hanya duduk manis di kelas lalu memberikan soal dan selesai sudah. Kalo dilihat dari rencana saja sudah akan menyita waktu untuk berpikir bagaimana skenario pembelajaran esok hari akan dilakukan. Belum lagi ketika guru harus dihadapkan oleh beberapa pilihan ketika rencana belajarnya tidak berjalan sesuai semestinya. Bisa saja skenario itu akan lenyap karena skenario yang telah tersusun rapi dibuat berantakan oleh banyak karakter anak di dalam kelas yang haus akan perhatian. Wajar sih wajar, ya beginilah indahnya mengajar anak SD. Mulai dari ribut, tidak suka dengan gaya belajar pada saat itu, ada yang tertinggal dan perlu bimbingan khusus, dan ada biang onar di kelas itulah beberapa tantangan yang dihadapi. Nah maka dari itu apabila skenario tidak berjalan perlu berpikir keras untuk menyiapkan opsi pembelajaran lain yang tidak mengacaukan kelas. lagi dan lagi perlu keterampilan mengalihkan pembelajaran dengan cara lebih dimengerti. Mengubah situasi secara kilat pun mesti dilakukan.

 Saya selama terjun langsung ke kehidupan mengajar Sekolah Dasar benar-benar memeroleh tantangan yang begitu nyata dan unik. Karakter setiap kelas dan setiap anak benar-benar hebat. Banyak karakteristik siswa yang mesti diselami supaya pembelajaran bisa berjalan dengan baik. Kalau boleh dibilang guru harus “ngemong” entah itu kelas rendah atau kelas tinggi. Kebanyakan orang bilang mungkin mengajar itu gampang, mungkin dengan sudut pandang mengajar hanya memberikan informasi dan siswa tahu sudah itu saja. Kenyataannya? Tidak sesederhana itu. Kalau supaya siswa tahu dan paham saja bisa, tapi tidak bakal semua karena masing-masing memiliki kecepatan berbeda dalam menerima informasi. Itu saja sudah tantangan tersendiri untuk membuat anak dalam kelas maju bersama beriringan. Belum lagi nanti tingkah laku mereka yang dalam usianya sedang senang menirukan apa yang mereka lihat dan dengar. Imitasi adalah fase mereka saat itu dan perlu pengarahan dari seorang guru untuk mendidik mereka supaya terarah dan memiliki sikap santun dimana pun mereka berada. Era globalisasi sekarang menuntut guru untuk melakukan pembentukan karakter siswa yang berbudi pekerti luhur.

Saya rasa pembukaan cerita sudah terlalu panjang,hehe. Kembali ke cerita yang sebenarnya akan saya sampaikan. Banyak sekali kejadian di sekolah yang membuat saya terkadang sedih, senang, bangga, puas, kecewa dan semua perasaan sudah pernah saya rasakan dan teraduk menjadi satu di lingkungan ini. Menghadapi anak-anak sd sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Ada perbedaan sensasi mengajar kelas rendah (1-3) dan kelas tinggi (4-6). Perlakuan kepada mereka beda pula. Perlu kesabaran ekstra untuk mengajar kelas rendah, tapi untuk kelas tinggi juga sebetulnya sama saja. Bedanya kalau kelas tinggi sudah lebih mengerti dan mudah untuk dikendalikan ketika ribut, tapi kelas rendah kalau sudah ribut.....argggghhhh.... harus kuat iman dan sabar dengan tingkah laku mereka. Khususnya kelas satu dan dua, mereka masih senang untuk bermain. Ya karena masih dalam fase perkembangannya. Kalau untuk siswa kelas ini ada rasa geli, lucu dan gemas oleh tingkah mereka. Misalnya saja ada yang tahu-tahu berkelahi di kelas, semua anak maju tanpa disuruh untuk bertanya apa tulisannya benar padahal sudah diberi contoh di papan tulis, nah ini yang khas yang melekat pada jiwa mereka baik laki-laki atau perempuan sama saja kebanyakan mahir memainkan tangan mereka yang gatal dengan memukul-mukul meja(saya dulu juga begitu sebagai siswa,hoho). Ada saja setiap kali mengajar terkekeh dengan tingkah polos mereka untuk diajarin suatu hal tapi kalau sudah memancing emosi naudzubilah darah sudah berasa di ubun-ubun. Mau marah salah tidak marah ntar darah tinggi, hehe. Intinya mengajar kelas rendah ini perlu jiwa asuh dan ekstra sabar yang tidak boleh dibatasi. Perlu kontrol diri untuk tidak marah-marah di depan anak-anak karena nanti akan berakibat serangan mental kepada mereka dan sampai sekarang pun saya masih gagal, haha. Saya masih labil dan jiwa muda saya masih bergejolak untuk marah-marah, masih perlu banyak belajar kontrol diri dan manajemen kelas. Masih payah aku mah.

Beda sensasi dengan mengajar kelas tinggi. Siswa dari kelas ini bisa dikatakan sudah lebih “ndolor” kata orang jawa. Mereka sudah lebih mengerti instruksi dan mimik bahasa tubuh saya kalau tidak menyukai sikap dari mereka yang menyimpang. Mereka lebih mudah dan siap untuk diarahkan. Tapi kembali ke sifat kekanakan mereka ya sama saja ketika sudah mengalami fase jenuh pasti akan melakukan hal yang lebih mengasyikan. Bedanya mereka menyalurkan ke hal lain seperti misalnya malah menggambar di buku ketika pelajaran, menulis surat, atau membuat mainan selama mereka tidak mendapat teguran. Di fase kelas ini juga siswa mulai berpikir kritis, apa yang disampaikan guru tidak serta merta mereka terima. Pernah saya salah dalam menjelaskan materi dan ada kesalahan dan di protes, hehe. Itu juga menjadi teguran bagi saya untuk lebih teliti lagi. Ada lagi ketika muncul pertanyaan yang super sekali dari mulut mereka dan membuat saya gelagapan untuk menjawab. Sejenak saya berpikir lebih baik saya jadikan PR saja daripada saya harus menjawab asal dan harus membohongi mereka dengan jawaban ngawur. Toh itu juga bukan berarti guru tahu segala hal, manusia tempat lupa. Bukan berarti guru yang tidak bisa menjawab pertanyaan muridnya akan merasa rendah dihadapan muridnya. Justru ini sebagai cambuk untuk saya dan pendidik lain untuk terus belajar sepanjang hayat. Lebih baik jujur kepada siswa saat belum tahu pasti jawaban dari pertanyaan siswa daripada menuruti gengsi yang justru menjerumuskan mereka. 

Bersikap terbuka melatih siswa untuk mengerti dan mengakui keterbatasan kita sebagai manusia serta melatih kejujuran ketika kita tidak tahu akan sesuatu hal. Kebanyakan siswa akan diam ketika ditanya ada tidak yang belum jelas atau ada pertanyaan dan akan membisu ketika diberi pertanyaan. Perlu untuk melatih mereka berani mengungkapkan pendapat dan pertanyaan. Saya juga pernah mengalami didebat oleh anak-anak yang notabene bintang kelas. Dari mereka juga saya belajar ternyata anak-anak ini punya cara tersendiri menyelesaikan suatu masalah. Saya sangat senang dan bangga kalau berhadapan dengan mereka. Hal ini berarti mereka ada kemauan untuk menjadi beda. Jujur saja kalau soal mengajar saya lebih menyukai mengajar siswa kelas tinggi dibanding kelas rendah. Alasan utama ya itu, saya masih membatasi kesabaran saya. Untuk berhadapan dengan siswa kelas rendah masih payah. Jiwa ngemongnya belum ada hehe. Kalau kelas tinggi ya karena itu mereka sudah sedikit lebih “ndolor” dan tinggal diarahkan. Walaupun sebenarnya menjadi guru SD harus siap dengan segala hal dan segala kondisi. Hal ini masih menjadi pelecut semangat saya dalam memerbaiki diri. Semoga saya diberi kesempatan untuk menjadi pribadi lebih baik dan siap dalam mengarungi dunia pendidikan yang nantinya melejitkan tunas-tunas muda pengharum nama bangsa.

TETAP MENGABDI DEMI NEGERI WAHAI PENDIDIK, BELAJAR SEPANJANG HAYAT DAN TETAP SELALU BERSYUKUR.

Sabtu, 07 Februari 2015

BERBAGAI BENTUK NIKMAT

Nikmat itu pastinya dirasakan oleh setiap manusia. Hanya orang tak bersyukur saja yang mengkufuri nikmat. Setiap yang lahir di dunia akan mendapatkan nikmat dari sang kuasa. Bayi baru lahir pun sudah akan merasakan nikmat yang luar biasa. Ia akan memeroleh nikmat menghirup udara segar semenjak dikurung dalam kandungan kurang lebih 9 bulan, dapat menangis untuk pertama kalinya, terbebas dalam rahim ibunya hingga merasakan dunia yang sebenarnya. Setelah lahir ia akan beranjak menjadi balita yang mulai tumbuh dan berkembang atas kasih sayang dari kedua orang tuanya. Beranjak memasuki masa sekolah dengan kehidupan interaksi dengan orang lain, dan hingga beranjak tua. Semua tahapan itu mustahil dilalui jika tanpa ada nikmat yang dirasakan.

            Nikmat itu ada yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma dan ada yang kita usahakan. Contoh secara cuma-cuma nikmat dalam hal bernafas. Sejak lahir kita sudah diberikan nafas gratis demi kelangsungan hidup manusia. Subsidi nafas itu akan habis mana kala kita menjemput ajal. Bisa dihitung berapa udara yang kita gunakan selama hidup ini. Jika harus dibeli dengan uang berapa biaya yang mesti dikeluarkan. Lihat saja tabung oksigen di rumah sakit yang digunakan oleh pasien yang dipakai untuk menyelamatkan hidupnya. Persediaannya terbatas dan pasti harus diganti dengan uang yang tidak sedikit. Segala puji bagi Alloh yang memberikan manusia nikmat nafas secara cuma-cuma ini. Ketika bangun tidur bisa dipastikan kita sudah memeroleh nikmat, masih bisa membuka mata, masih bisa menghirup udara segar bahkan beraktivitas dengan normal sungguh karunia Tuhan yang maha hebat. Belum lagi kita diberikan organ dan alat tubuh yang berfungsi normal. Tidak ada yang bisa menggantikan nikmat ini. Semuanya gratis namun tak berhingga harganya.

Punya otak yang memiliki bermilyar syaraf yang menjadi sistem kendali semua organ tubuh untuk bergerak dan melakukan sesuatu. Jantung yang berdenyut setiap saat tanpa henti (kalau berhenti bahaya hehe). Paru-paru yang selalu memompa setiap aliran udara yang masuk dan keluar. Lima indra yang berfungsi dengan super hebatnya, mata yang melihat dengan baiknya, telinga mendengarkan segala bentuk bunyi, lidah yang mengecap berbagai rasa sehingga tidak hambar, hidung sebagai jalur utama co2 dan o2 berhembus. Kulit yang menyelimuti daging dan tulang serta untuk merasakan rabaan sungguh karya nyata yang nampak dan tak ada yang bisa membuatnya. Berkah yang sangat berharga bagi manusia. Manusia bisa beraktivitas berjalan dengan kaki yang normal, punya tangan untuk digunakan untuk membuat berbagai karya yang menakjubkan  itu semua hanya bisa dilakukan dengan dibarengi oleh nikmat kesehatan. Manfaatkan masa sehatmu sebelum masa sakitmu. Sehat itu mahal harganya. Jika kita sakit baru sadar kalau kesehatan itu penting. Ketika sakit berapa biaya yang akan dikeluarkan pastinya tidak sedikit. Semua orang ingin selalu sehat orang sakit akan berusaha untuk sehat entah biaya yang harus dikeluarkan. Maka dari itu nikmat sehat harus dijaga sebaik mungkin. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Bentuk pola hidup sehat untuk kehidupan lebih produktif. Dengan sehat segala urusan pasti lebih terasa ringan untuk dilalui. Sehat tidak hanya secara fisik tapi juga psikis. Jiwa yang sehat juga harus diberi asupan nutrisi dan vitamin. Hal ini untuk menjaga kehidupan menjadi lebih tenang dan bahagia dengan nikmat sehat yang disyukuri selalu. Itu baru beberapa nikmat gratis yang dirasakan.

Nikmat yang bisa diusahakan seperti nikmat untuk makan, minum, memeroleh harta benda dan kebutuhan hidup yang diusahakan dengan bekerja. Bisa berinteraksi dengan orang lain yang seyogyanya manusia sebagai makhluk sosial juga bentuk nikmat. Kalau berbicara tentang nikmat yang diperoleh manusia pasti tidak ada habisnya. Namun kebanyakan banyak orang kufur akan nikmat, lupa dengan siapa yang memberi nikmat. Selalu merasa kurang atas nikmat yang dirasakan. Rejeki, kesehatan, hidup bahagia, dan macam lainnya adalah berbagai bentuk nikmat yang ada. Sebagai insan manusia yang baik perlu disadari bahwa semua itu adalah pemberian Illahi yang patut disyukuri dengan bijak. Berbagi dengan sesama yang membutuhkan adalah tindakan sederhana dalam bersyukur. Tidak perlu menjadi manusia yang sombong dan membanggakan diri atas usaha yang diraih, itu semua karena kehendakNya. Maka dari itu mari kita sebagai penikmat Nikmat harus pandai bersyukur dan menjalani hidup ini dengan lebih berguna dalam Bumi Alloh ini. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Syukur adalah salah satu tanda keimanan seseorang. Syukur menjadikan jiwa seseorang sehat maka NIKMAT TUHANMU MANA YANG KAU DUSTAKAN.