Mengajar dan mendidik sudah menjadi
hal yang wajar sekiranya bagi seorang guru. Selama enam hari bertatap muka
dengan siswanya entah di dalam kelas atau di luar kelas, sudah menjadi
rutinitas dan tugas pendidik. Mulai dari menyiapkan rencana pembelajaran sampai
implementasinya dalam pembelajaran. Persiapannya pun tak semata-mata hanya
duduk manis di kelas lalu memberikan soal dan selesai sudah. Kalo dilihat dari
rencana saja sudah akan menyita waktu untuk berpikir bagaimana skenario
pembelajaran esok hari akan dilakukan. Belum lagi ketika guru harus dihadapkan
oleh beberapa pilihan ketika rencana belajarnya tidak berjalan sesuai
semestinya. Bisa saja skenario itu akan lenyap karena skenario yang telah
tersusun rapi dibuat berantakan oleh banyak karakter anak di dalam kelas yang
haus akan perhatian. Wajar sih wajar, ya beginilah indahnya mengajar anak SD.
Mulai dari ribut, tidak suka dengan gaya belajar pada saat itu, ada yang
tertinggal dan perlu bimbingan khusus, dan ada biang onar di kelas itulah
beberapa tantangan yang dihadapi. Nah maka dari itu apabila skenario tidak
berjalan perlu berpikir keras untuk menyiapkan opsi pembelajaran lain yang
tidak mengacaukan kelas. lagi dan lagi perlu keterampilan mengalihkan
pembelajaran dengan cara lebih dimengerti. Mengubah situasi secara kilat pun
mesti dilakukan.
Saya selama terjun langsung ke kehidupan
mengajar Sekolah Dasar benar-benar memeroleh tantangan yang begitu nyata dan
unik. Karakter setiap kelas dan setiap anak benar-benar hebat. Banyak
karakteristik siswa yang mesti diselami supaya pembelajaran bisa berjalan
dengan baik. Kalau boleh dibilang guru harus “ngemong” entah itu kelas rendah
atau kelas tinggi. Kebanyakan orang bilang mungkin mengajar itu gampang,
mungkin dengan sudut pandang mengajar hanya memberikan informasi dan siswa tahu
sudah itu saja. Kenyataannya? Tidak sesederhana itu. Kalau supaya siswa tahu
dan paham saja bisa, tapi tidak bakal semua karena masing-masing memiliki
kecepatan berbeda dalam menerima informasi. Itu saja sudah tantangan tersendiri
untuk membuat anak dalam kelas maju bersama beriringan. Belum lagi nanti
tingkah laku mereka yang dalam usianya sedang senang menirukan apa yang mereka
lihat dan dengar. Imitasi adalah fase mereka saat itu dan perlu pengarahan dari
seorang guru untuk mendidik mereka supaya terarah dan memiliki sikap santun dimana
pun mereka berada. Era globalisasi sekarang menuntut guru untuk melakukan
pembentukan karakter siswa yang berbudi pekerti luhur.
Saya rasa pembukaan cerita sudah
terlalu panjang,hehe. Kembali ke cerita yang sebenarnya akan saya sampaikan.
Banyak sekali kejadian di sekolah yang membuat saya terkadang sedih, senang,
bangga, puas, kecewa dan semua perasaan sudah pernah saya rasakan dan teraduk
menjadi satu di lingkungan ini. Menghadapi anak-anak sd sudah menjadi rutinitas
sehari-hari. Ada perbedaan sensasi mengajar kelas rendah (1-3) dan kelas tinggi
(4-6). Perlakuan kepada mereka beda pula. Perlu kesabaran ekstra untuk mengajar
kelas rendah, tapi untuk kelas tinggi juga sebetulnya sama saja. Bedanya kalau
kelas tinggi sudah lebih mengerti dan mudah untuk dikendalikan ketika ribut,
tapi kelas rendah kalau sudah ribut.....argggghhhh.... harus kuat iman dan
sabar dengan tingkah laku mereka. Khususnya kelas satu dan dua, mereka masih
senang untuk bermain. Ya karena masih dalam fase perkembangannya. Kalau untuk
siswa kelas ini ada rasa geli, lucu dan gemas oleh tingkah mereka. Misalnya
saja ada yang tahu-tahu berkelahi di kelas, semua anak maju tanpa disuruh untuk
bertanya apa tulisannya benar padahal sudah diberi contoh di papan tulis, nah
ini yang khas yang melekat pada jiwa mereka baik laki-laki atau perempuan sama
saja kebanyakan mahir memainkan tangan mereka yang gatal dengan memukul-mukul
meja(saya dulu juga begitu sebagai siswa,hoho). Ada saja setiap kali mengajar
terkekeh dengan tingkah polos mereka untuk diajarin suatu hal tapi kalau sudah
memancing emosi naudzubilah darah sudah berasa di ubun-ubun. Mau marah salah
tidak marah ntar darah tinggi, hehe. Intinya mengajar kelas rendah ini perlu
jiwa asuh dan ekstra sabar yang tidak boleh dibatasi. Perlu kontrol diri untuk
tidak marah-marah di depan anak-anak karena nanti akan berakibat serangan
mental kepada mereka dan sampai sekarang pun saya masih gagal, haha. Saya masih
labil dan jiwa muda saya masih bergejolak untuk marah-marah, masih perlu banyak
belajar kontrol diri dan manajemen kelas. Masih payah aku mah.
Beda sensasi dengan mengajar kelas
tinggi. Siswa dari kelas ini bisa dikatakan sudah lebih “ndolor” kata orang
jawa. Mereka sudah lebih mengerti instruksi dan mimik bahasa tubuh saya kalau
tidak menyukai sikap dari mereka yang menyimpang. Mereka lebih mudah dan siap
untuk diarahkan. Tapi kembali ke sifat kekanakan mereka ya sama saja ketika
sudah mengalami fase jenuh pasti akan melakukan hal yang lebih mengasyikan.
Bedanya mereka menyalurkan ke hal lain seperti misalnya malah menggambar di
buku ketika pelajaran, menulis surat, atau membuat mainan selama mereka tidak
mendapat teguran. Di fase kelas ini juga siswa mulai berpikir kritis, apa yang
disampaikan guru tidak serta merta mereka terima. Pernah saya salah dalam
menjelaskan materi dan ada kesalahan dan di protes, hehe. Itu juga menjadi
teguran bagi saya untuk lebih teliti lagi. Ada lagi ketika muncul pertanyaan
yang super sekali dari mulut mereka dan membuat saya gelagapan untuk menjawab.
Sejenak saya berpikir lebih baik saya jadikan PR saja daripada saya harus
menjawab asal dan harus membohongi mereka dengan jawaban ngawur. Toh itu juga
bukan berarti guru tahu segala hal, manusia tempat lupa. Bukan berarti guru
yang tidak bisa menjawab pertanyaan muridnya akan merasa rendah dihadapan
muridnya. Justru ini sebagai cambuk untuk saya dan pendidik lain untuk terus
belajar sepanjang hayat. Lebih baik jujur kepada siswa saat belum tahu pasti
jawaban dari pertanyaan siswa daripada menuruti gengsi yang justru
menjerumuskan mereka.
Bersikap terbuka melatih siswa untuk mengerti dan
mengakui keterbatasan kita sebagai manusia serta melatih kejujuran ketika kita
tidak tahu akan sesuatu hal. Kebanyakan siswa akan diam ketika ditanya ada
tidak yang belum jelas atau ada pertanyaan dan akan membisu ketika diberi
pertanyaan. Perlu untuk melatih mereka berani mengungkapkan pendapat dan
pertanyaan. Saya juga pernah mengalami didebat oleh anak-anak yang notabene
bintang kelas. Dari mereka juga saya belajar ternyata anak-anak ini punya cara
tersendiri menyelesaikan suatu masalah. Saya sangat senang dan bangga kalau
berhadapan dengan mereka. Hal ini berarti mereka ada kemauan untuk menjadi
beda. Jujur saja kalau soal mengajar saya lebih menyukai mengajar siswa kelas
tinggi dibanding kelas rendah. Alasan utama ya itu, saya masih membatasi
kesabaran saya. Untuk berhadapan dengan siswa kelas rendah masih payah. Jiwa
ngemongnya belum ada hehe. Kalau kelas tinggi ya karena itu mereka sudah
sedikit lebih “ndolor” dan tinggal diarahkan. Walaupun sebenarnya menjadi guru
SD harus siap dengan segala hal dan segala kondisi. Hal ini masih menjadi
pelecut semangat saya dalam memerbaiki diri. Semoga saya diberi kesempatan untuk
menjadi pribadi lebih baik dan siap dalam mengarungi dunia pendidikan yang
nantinya melejitkan tunas-tunas muda pengharum nama bangsa.
TETAP MENGABDI DEMI NEGERI WAHAI
PENDIDIK, BELAJAR SEPANJANG HAYAT DAN TETAP SELALU BERSYUKUR.